Senin, 25 Februari 2013

KENDALA DALAM PERNIKAHAN



Pernikahan merupakan sesuatu hal yang menjadi dambaan banyak orang terutama bagi para pemuda dan para gadis. Pernikahan menjadi suatu harapan ketika fungsi-fungsi hormonal tubuh dianggap sudah matang. Pernikahan juga menjadi mimpi indah ketika jiwa tidak lagi bisa dipuaskan dengan menjadi anak yang ideal. Bahkan, pernikahan menjadi jawaban kongkret atas berbagai "tekanan" sosial yang terus menghantui para wanita-wanita Timur.
Telat menikah bukan hanya memonopoli gadis-gadis biasa. Bagi kalangan Muslimah aktivis, shalihat, para penggiat dakwah, mereka pun juga merasakan hal yang sama. Hanya saja cara mereka menyikapi problema itu lebih halus dan sabar. Realita kerisauan itu tetap ada, hanya saja lebih terkendali. Namun tidak bisa dipungkiri, ada juga yang berguguran karena tidak kuat menahan tekanan.
Fenomena telat menikah bukan hanya memonopoli para gadis saja namun para pemuda juga merasakan tekanan  yang hebat. Keterlambatan menikah bagi para pemuda dilatarbelakangi dengan banyak faktor, diantaranya aitu belum siap untuk memberi nafkah, belum menemukan calon yang tepat, belum siap menjadi tumpuan keluarga, tidak memiliki modal yang cukup untuk melangsungkan acara resepsi sesuai standar modern, kekhawatiran berlebihan melihat beban kehidupan rumah-tangga, terlilit beban utang, mengidap penyakit-penyakit serius dan beraneka alasan yang lain. Masalah ini tidak cukup selesai dengan ucapan, “Wahai ikhwan, rezeki itu dari Allah. Tidak usah takut menikah hanya gara-gara soal rezeki.”
Persoalan telat menikah bukan hanya masalah kecil. Kalau disimak lebih seksama, hal ini merupakan persoalan sosial yang cukup serius. Tanpa disadari, sikap seperti ini justru melahirkan problema-problema baru yang tidak kalah serius seperti pelecehan seksual, pergaulan bebas, aborsi, demam pornografi, selingkuh dan lain-lain. Kemudian apakah solusi atas semua masalah ini? Tentu, kita tidak akan mengatakan, “Semua pihak harus peduli untuk berpikir keras mencari solusi-solusi yang lebih efektif dan efisien.” Budaya basa-basi yang seperti ini sudah selayaknya dilempar ke museum. Solusi itu bisa digali dengan mengoptimalkan kesadaran positif para Muslimah sendiri.  Dan solusi untuk masalah kendala untuk menikah ialah:
1.  Kajilah kembali persoalan tentang pernikahan ini, dari segi keindahan maupun tanggung-jawabnya. Jangan sampai menyepelekan, namun juga jangan merasa ketakutan. Bersikaplah secara adil. Mempersiapkan diri untuk memikul beban, tapi tetap bersemangat tinggi untuk menyongsong hari-hari yang penuh dengan sakinah atau kedamaian .
2.   Pikirkan setiap peluang dan jalan-jalan ke arah pernikahan yang mungkin bisa kita dapatkan, selama hal itu halal dan benar. Jangan membuat sekat-sekat sehingga ia akan memenjara diri kita sendiri, namun juga jangan tergiur oleh aneka bujuk rayu yang bisa menyeret kita ke sudut-sudut yang menakutkan. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi diri kita.
3.      Jangan takut untuk menerima risiko. Kalau dipikirkan, di dunia ini tidak ada yang tidak berisiko. Kesendirianpun juga  ada risikonya, melaju ke pernikahan adalah risiko, berumah-tangga pun tidak sepi dari risiko. Bukan risiko yang harus ditakutkan, namun takutlah jika kita jatuh ke lubang-lubang dosa karena salah ketika melangkah.
4.    Jawablah seluruh tawaran pernikahan yang datang kepada kita, dengan menjawab seideal atau sesederhana mungkin seperti ini, “Saya tidak begitu saja menolak atau menerima, namun beri saya waktu untuk beistikharah. Biarlah petunjuk Allah yang akan menjawab ajakan ini.” Lalu tunaikan istikharah sesuai Sunnah Rasulullah SAW. Jangan putus-putus untuk menunaikan itu hingga hati Anda dilapangkan untuk memilih satu dari dua jawaban, menerima atau menolak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar